Kekurangan Guru Hingga Bau Busuk Limbah Pabrik Jadi Keluhan SLBN Asahan

Kepsek SLBN Asahan, Rasma Ginting, S. Pd ketika mengutarakan situasi dan kondisi sekolah yang dipimpinnya.

KabarMania.com, Asahan - Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Asahan di jalan Prof. H. M Yamin, Nomor 54, Kota Kisaran, Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) kekurangan Guru dan terganggu bau busuk limbah pabrik yang berlokasi di sekitar sekolah.
 
Hal itu seperti yang diutarakan Kepala Sekolah (Kepsek) SLBN Asahan, Rasma Ginting, S. Pd kepada wartawan, Sabtu (29/7)  sekira pukul 10.00 wib di ruang perpustakaan sekolah tersebut, ketika ditanyai apa kendala yang dihadapi oleh sekolah sa'at ini.

Rasma Ginting memaparkan bahwa sekolah memiliki siswa 70  jenjang SD, 9 tingkat SMP dan 3 orang siswa Menengah Atas, soalnya baru tahun ajaran ini SLBN Asahan menerima siswa untuk tingkat pertama dan menengah atas, sehingga siswanyapun masih minim.



Sekolah ini mendidik Siswa penderita autis (hiperaktif), tuna grahita (keterbelakangan mental), tuna netra (gangguan penglihatan), tuna rungu - wicara (gangguan pendengaran dan berbicara) dan tuna daksa (gangguan tubuh/fisik).

Guru yang mengajar di SLBN Asahan, 2 guru ASN, 11 guru honor BOS dan 2 Guru Tidak Tetap (GTT) dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (pemprovsu), ditambah beberapa orang staf dan operator serta Security sekolah. jadi dengan dibukanya program studi tingkat pertama dan menengah atas, tentu guru yang ada masih dirasa kurang, terutama untuk tenaga pendidik siswa penderita Autis yang hiperaktif.

Kepsek SLBN Asahan, Rasma Ginting, S.Pd didampingi, salah seorang guru, Sri Ayu Sinambela, S. Pd, sa'at memaparkan program studi tingkat pertama dan menengah atas yang mulai dilaksanakan tahun ajaran ini.


Disamping kebutuhan penambahan tenaga pendidik yang dibutuhkan, warga SLBN Asahan juga rutin menghirup udara bau busuk yang diduga ditimbulkan dari Pabrik pengolahan tapioka dan pabrik karet yang lokasinya dekat dengan sekolah.

Sayangnya lagi, perhatian atau kepedulian kedua pengusaha pabrik yang menimbulkan bau busuk rutin tersebut, tidak pernah ada terhadap SLBN Asahan, terbukti belum pernah sekalipun ada bantuan dari pihak pabrik kepada sekolah, baik berupa alat (masker), pemeriksaan kesehatan ataupun konpensasi atas timbulnya bau busuk menyengat tersebut.

Kepedulian Sosial terhadap lingkungan atau yang populer disebut Coorporete Social Responsibility (CSR) kedua pabrik tersebut betul - betul nihil terhadap SLBN Asahan ini, keluh Rasma Ginting.

Beberapa Guru dan siswa yang sempat dimintai tanggapannya, terkait bau busuk limbah pabrik sekitar sekolah membenarkan. Bahwa bau busuk menyengat sudah menjadi rutinitas penciuman mereka bila berada di sekolah. (Red)
Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama